Blog
PGRI dalam Mengokohkan Peran Guru di Era Disrupsi
- febrero 26, 2026
- Publicado por: brouoadmin
- Categoría: Uncategorized
Berikut adalah strategi PGRI dalam mengokohkan peran guru di tengah gempuran perubahan teknologi:
1. Transformasi Peran: Dari Pengajar ke Fasilitator
PGRI mendorong pergeseran paradigma bahwa guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu (saat ini Google dan AI bisa melakukan itu lebih cepat).
2. Literasi Digital dan Adaptasi Teknologi
Disrupsi hanya menjadi ancaman bagi mereka yang berhenti belajar. PGRI mengambil langkah proaktif melalui:
-
Akses Inklusif: Memperjuangkan agar guru di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) tetap mendapatkan akses perangkat dan jaringan agar tidak tertinggal oleh arus disrupsi.
3. Perlindungan Profesi di Dunia Maya
Era disrupsi membawa tantangan baru seperti cyberbullying terhadap guru atau penyebaran data pribadi.
-
Advokasi Digital: LKBH PGRI kini juga mulai memperhatikan aspek perlindungan hukum terkait UU ITE bagi guru yang sedang menjalankan tugas profesionalnya di ruang digital.
-
Standar Etika Profesi 2.0: Memperbarui kode etik guru agar tetap relevan dengan cara berkomunikasi di media sosial dan ruang kelas virtual.
4. Penguatan Jaringan Komunitas Belajar
Kekuatan PGRI terletak pada solidaritasnya. Di era disrupsi yang cenderung individualistis, PGRI mengokohkan peran guru melalui:
| Strategi | Implementasi |
| Kolektifitas | Membangun komunitas praktisi antar guru untuk berbagi modul ajar digital. |
| Kemandirian | Mendorong guru menciptakan ekosistem belajar mandiri tanpa harus selalu menunggu instruksi birokrasi. |
| Dialog Global | Melalui keanggotaan di Education International, PGRI membawa tren pendidikan global ke tingkat lokal. |
Mengapa Peran Guru Tetap Kokoh?
Meski disrupsi membawa otomatisasi, PGRI berkeyakinan pada konsep “High Tech, High Touch”. Teknologi yang tinggi harus diimbangi dengan sentuhan kemanusiaan yang tinggi. Guru yang dikawal oleh PGRI adalah mereka yang:
-
Adaptif terhadap alat baru.
-
Kritis terhadap informasi.
-
Inspiratif dalam membentuk kepribadian siswa.
“Teknologi bisa menggantikan guru yang hanya mengajar, tetapi teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan guru yang mendidik dengan hati.”